Nama saya Zhou Yan. Saya sudah 12 tahun bekerja sebagai perajin sulaman di atelier Jiangsu, dan hari ini saya ingin menceritakan kisah yang paling penting dalam karier saya: pelatihan delapan perajin Yogyakarta yang menjadi tulang punggung mivelar Atelier Nusantara.
Ide ini lahir dari pertanyaan sederhana yang diajukan Carmen Vega pada musim semi 2024: «Bagaimana jika kita tidak mengajarkan batik ke orang Eropa, tetapi mengajarkan renda Calais ke perajin batik yang sudah ada?» Pertanyaan itu membalikkan seluruh logika ekspansi kami —dan mengubah segalanya.
1. Seleksi: dari 1.200 pelamar menjadi 8 perajin
Pada bulan Juni 2024, kami membuka pendaftaran untuk program pelatihan «Batik Couture» di empat kota: Yogyakarta, Solo, Cirebon, dan Pekalongan. 1.247 pelamar mendaftar dalam dua minggu. Dari jumlah itu, 84 diundang ke seleksi tertulis dan wawancara di Yogyakarta, dan akhirnya 24 pelamar lolos ke tahap magang.
Selama tiga bulan pertama, para magang bekerja enam hari seminggu, dari jam 8 pagi hingga 6 sore, dengan tugas tunggal: menyalin motif batik tulis tradisional ke kain mori dengan tangan. Saya sendiri yang memimpin pelatihan tahap pertama, dibantu oleh dua perajin senior dari kraton Yogyakarta.
Dari 24 magang awal, 8 perajin diterima menjadi karyawan tetap atelier pada bulan April 2025: Sri Wahyuni, Darmawan Setiadi, Lestari Handayani, Kusuma Wijaya, Anindita Sari, Bagus Pratama, Intan Permata, dan Yoga Pranata. Nama-nama mereka akan disulam, satu per satu, pada label dalam setiap busana Nusantara.
2. Tahap pertama: belajar «membaca» renda
Langkah pertama yang mengejutkan saya: delapan perajin ini, yang rata-rata sudah memiliki 10–15 tahun pengalaman batik, tidak pernah menyentuh renda dalam hidup mereka. Renda adalah material Barat, halus, tidak kenal malam, tidak kenal pewarnaan berulang, dan tidak kenal gaya swastika. Mereka harus belajar dari nol.
«Pertama kali saya memegang renda Calais, saya takut merobeknya. Terlalu tipis, terlalu rapuh, terlalu mahal. Tapi mbak Zhou Yan bilang: renda itu seperti batik —yang penting bukan kainnya, melainkan motif yang Anda jahit di atasnya.»
— **Sri Wahyuni**, perajin Atelier Nusantara
Untuk proses adaptasi ini, kami mendatangkan 600 meter renda Calais-Caudry® dari tiga mitra Prancis kami (Sophie Hallette, Codentel, dan Brocéliande) dan menggunakannya sebagai bahan latihan. Pada akhir bulan pertama, 3,2 km renda sudah hancur di tangan para perajin —itulah «biaya» untuk belajar.
3. Tahap kedua: menggabungkan dua dunia
Tahap kedua, yang dimulai pada bulan Agustus 2025, adalah menjahit renda di atas kain batik. Di sinilah keajaiban terjadi. Ada tiga pendekatan berbeda yang diuji:
**Pendekatan «tempel»** — renda dijahit sebagai applique di atas batik yang sudah jadi. Hasilnya cepat, tetapi kurang halus.
**Pendekatan «integrasi»** — pola batik ditulis ulang dengan menyisipkan «pola lubang» di mana renda akan dipasang. Hasilnya indah, tetapi butuh **70 jam per potong**.
**Pendekatan «hibrida»** — pola batik dan pola renda dirancang **bersamaan** oleh sepasang desainer (satu Eropa, satu Jawa) sejak hari pertama. Hasilnya adalah kain yang di satu sisi adalah batik, di sisi lain adalah renda.
Akhirnya, kami memilih pendekatan hibrida untuk koleksi peluncuran. Itulah teknik «batik couture» yang kini menjadi ciri khas Atelier Nusantara. Setiap potong membutuhkan 70 jam kerja, dan hanya enam perajin di dunia (semua di Yogyakarta) yang mampu mengeksekusinya.
4. Tahap ketiga: dari kain ke busana
Setelah kain «batik couture» selesai, ia dikirim ke atelier Sevilla untuk dipasang sebagai corpetto atau kelim gaun malam. Di sana, tim corseteria Eropa menambahkan struktur (ballena baja Jerman, kancing perancis, kawat Italia), dan tim bordir mivelar menambahkan sulaman akhir dengan benang emas `#d4a849`.
Hasilnya adalah busana yang secara harfiah menjelma di empat benua: kapas dari India, sutra dari China, renda dari Prancis, dan struktur dari Italia, semuanya dijahit di Yogyakarta dan Sevilla. Setiap busana membawa tujuh label transparansi —satu untuk setiap negara asal material.
5. Mengapa «komersial langsung» penting
Salah satu keputusan sulit yang kami ambil adalah membayar perajin Yogyakarta 40% di atas rata-rata industri. Untuk konteks, gaji rata-rata perajin batik di Yogyakarta adalah sekitar Rp 3,8 juta per bulan (data BPS 2024), sementara mivelar membayar Rp 5,3 juta per bulan untuk perajin tetap di atelier.
Ini adalah keputusan yang mungkin akan membuat lini Nusantara «kurang menguntungkan» di atas kertas. Tapi Carmen selalu berkata: «Kita tidak membuat fast fashion. Kita membuat busana yang akan diwariskan. Dan warisan tidak dibangun di atas ketidakadilan.»
*Untuk dokumentasi lengkap program «Batik Couture» dan profil delapan perajin, lihat [halaman khusus di situs kami](https://mivelar.com/id/nusantara/perajin).*
6. Kunjungan ke atelier
Atelier Yogyakarta di Prawirotaman II akan membuka pintunya untuk kunjungan publik setiap hari Sabtu pertama bulan, dari pukul 14.00 hingga 17.00, dengan maksimum 12 tamu per sesi. Kunjungan gratis, tetapi membutuhkan pendaftaran sebelumnya via [email protected] minimal 72 jam sebelumnya.
Selama kunjungan, Anda akan bertemu langsung dengan para perajin, melihat proses «batik couture» secara langsung, dan memiliki kesempatan untuk memesan busana custom. Atelier tidak menjual di tempat —semua pesanan dibuat berdasarkan ukuran individual, dengan waktu pengerjaan minimum 6 minggu.
Tentang penulisZhou Yan (Jiangsu, 1987) adalah perajin sulaman khusus («encajes») di mivelar Atelier. Sudah 12 tahun memimpin pengembangan bordir manual di lima atelier, dengan spesialisasi pada teknik «batik couture» untuk koleksi Nusantara.
EditorDavid Lin (Sevilla, 1990) adalah Pemimpin Desain AI di mivelar Atelier. Mengkoordinasikan proses desain hibrida antara perajin Yogyakarta dan atelier Sevilla.
Informasi lebih lanjut
[Atelier Nusantara: cara memesan](https://mivelar.com/id/nusantara)